The metaphor, according to I. A. Richards in The Philosophy of Rhetoric (1936), consists of two parts: the tenor and vehicle. The tenor is the subject to which attributes are ascribed. The vehicle is the subject from which the attributes are borrowed. (http://wikipedia.org)
Saya sangat suka dengan metafora.
Rasanya setiap karya sastra, sesederhana apapun itu, menjadi jauh lebih indah bila disampaikan dengan metafora. Ingatan saya akan pengertian metafora, ketika saya masih di ajarin pelajaran Bahasa Indonesia oleh guru SMP, adalah sebuah gaya bahasa dimana makna suatu kata diasosiasikan dengan kata lain yang memiliki karakter yang sama, akan tetapi menimbulkan efek yang berbeda. Secara sederhana, meminjam makna sebuah kata untuk menjelaskan makna kata yang lain.
Seingat saya, nilai Bahasa Indonesia saya waktu SMP ga bagus2 banget, sehingga ingatan saya akan pengertian metafora (dulu terkenalnya adalah majas metafora ) kemungkinan besar tidak lah benar. Tapi paling tidak, bila dibandingkan dengan penjelasan tante wiki di atas tentang pengertian metaphor, rasanya ingatan saya ga jauh-jauh banget melesetnya.
Ah, kata-kata yang disampaikan dengan metafora, hampir selalu memiliki paramount effect.
Salahsatu yang berkesan buat saya adalah metafora maut yang digunakan Andrea Hirata dalam buku pertamanya, Laskar Pelangi, ketika tokoh Ikal mendeskripsikan persahabatan mereka anggota Laskar :
Saat itu aku menyadari bahwa kami sesungguhnya adalah kumpulan persaudaraan cahaya dan api. Kami berjanji setia di bawah halilintar yang menyambar-nyambar dan angin topan yang menerbangkan gunung-gunung. Janji kami tertulis pada tujuh tingkatan langit, disaksikan naga-naga siluman yang menguasai Laut Cina Selatan. Kami adalah lapisan-lapisan pelangi terindah yang pernah diciptakan Tuhan.
Metafora yang hiperbolistik.